Loading...

Analogi Cinta dan Sakit Gigi

What’s up semua…, gak tersa udah ganti bulan aja. Padahal kemarin masih bulan Agustus loh. Agustus kepalamu! Awal November akhirnya tib...



What’s up semua…, gak tersa udah ganti bulan aja. Padahal kemarin masih bulan Agustus loh. Agustus kepalamu! Awal November akhirnya tiba bersamaan hujan deras sore ini. Udah mirip banget seperti lagunya Gun and Roses, November Rain.



Oke… untuk mengawali tulisan di awal bulan ini, aku ingin berbagi pengalaman yang baru aja aku alamin kemarin. Seperti yang udah aku tuliskan di postingan sebelumnya, aku sempet mengalami migren. Migren yang cukup bikin nyesek, bahkan lebih nyesek ketimbang ngeliatin gebetan kita malah jadian sama orang lain. Setelah mengalami migren yang enggak kunjung sembuh, malah aku juga mengalami rasa nyeri di bagian gigi, akhirnya aku periksakan ke dokter gigi kemarin malam.


Sampe di tempat dokter gigi dan diperiksa, ternyata gigi yang aku tambal bebeberapa minggu lalu mengalami pembekakan. Emang sebelumnya, karena gigiku berlubang, gigiku ditambal di salah satu klinik di deket rumahku. Waktu itu, aku juga merasa aneh. Kok asal tambal aja. Gak ditanyain apakah sakit atau kah enggak. Dicek ataukah enggak. Selang beberapa Minggu, aku merasa kalo kepalaku malah semakin migren. Bahkan puncaknya minggu kemarin. Aku berasumsi kalo migrenku ini karena kacamataku yang udah enggak cocok lagi. Lha udah 8 tahun gak ganti lensa kacamata.


Tapi, setelah ganti lensa, aku masih merasakan migren. Oke FIX, berarti sumber masalah bukan berasal dari mata. Selang beberapa hari, aku merasa nyeri dan linu pada gigi yang aku tambal beberapa waktu lalu. Aku mulai curiga kalau yang sebenarnya bermasalah itu gigiku, bukan yang lain. So, aku memutuskan untuk memerikasa ke dokter gigi langgananku sejak kecil. Singkat cerita, setelah bercerita panjang lebar, si dokter cuman bilang,

“Pantes mas… pasien saya udah banyak yang mengalamin hal gitu setelah periksa gigi disana…”

Emang sih, kemarin aku gak periksa di dokter langganku sejak SMP ini, karena takut. Pasti kalau ada gigi berlubang pasti dicabut, meskipun gigi itu kuat banget. Aku aja udah 3 kali nyabutin gigi yang masih kuat disini. Yang pertama nyabut 2 gigi gingsul, dan yang terakhir nyabut gigi geraham gara-gara patah setelah makan balok ketela. Sumpah nyesek banget. Kalo aku periksa di dokter gigi langgananku ini pasti bakal disuruh nyabut gigi. Lha kalo gigiku dicabut, aku udah gak punya gigi geraham lagi donk.

Setelah dicek dengan cara gigiku dipukul-pukul, pak Dokter pun menyimpulkan kalo gigi yang aku tambal beberapa waktu lalu bermasalah. Pak Dokter juga memberikan penjelasan, sebenarnya ada gigi yang masih bisa ditambal, dan ada gigi yang memang harus dibuang. Beliau juga bilang semakin tua dokter, semakin banyak pula pengalaman yang udah dia hadapi. 

Selesai memberikan khotbah dan wejangan sampe mulut berbusa, pak dokter gigi memberikan opsi yang cukup berat buatku.

“Ini seharusnya mau enggak mau harus dicabut mas.” Kata pak Dokter.
“Waduh, kalo dicabut entar saya udah gak punya geraham donk dok. Entar bakalan susah buat ngunyah.” Kataku sambil mainan gelas yang ada dikursi periksa.
“Kan saya lagi sakit dok, apa bisa dicabut?” kataku ngeles.
“Enggak apa-apa kok...” saya udah sering menangani kasus seperti ini.” Balas Pak dokter sambil ngunyah boor gigi.
“Nah sekarang pilihan ada di Mas, mau gigi dipertahankan tapi sakit, ataukah mengikhlaskan gigi diambil dan kamu bisa sembuh.”
“…”
JLEB…

Waktu serasa berhenti berputar. Sungguh pilihan yang sangat berat banget. Gimana enggak galau, kalo dikasih pilihan yang bobotnya 50:50.
1.   Gak dicabut, entar semakin parah, semakin migren, dan gak bisa fokus belajar, endingnya gak lulus kuliah, entar kalo gak lulus kuliah, enggak bisa kerja, dan endingnya gagal nikah.

2.   Kalo dicabut, entar udah gak punya geraham buat ngunyah. Lagian gigi juga masih kuat, kalo dicabut pasti bakalan sakit banget. Tapi migrenku akan segara berakhir dan aku bakalana sehat lagi.

Kalo dipikir-pikir, aku seperti sedang diberi pilihan tentang sebuah hubungan cinta. Kamu harus bertahan dengan orang yang kamu sayangi, tapi kamu akan terus mengalami sakit hati berkepanjangan. Ataukah kamu harus melepaskan kepergian pasanganmu. Meskipun awalanya sakit, tapi seiring berjalannya waktu kamu enggak akan mengalami yang namanya sakit hati lagi. Dan kamu bisa memulainya dari nol lagi.
 Hidup itu Pilihan Coy

Aku pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Harus memempertahankan ataukah harus melepaskan dan mengikhlaskan. Dan pilihanku waktu itu adalah melepaskan dan mengikhlaskan. Alhamdulilah, meskipun awalanya sakit, tapi seiring berjalanya waktu, luka itu bisa sembuh, meskipun kamu enggak akan bisa melupakan rasa sakit itu.

Setelah bertapa di ruang periksa, akhirnya aku memilih untuk mencabut gigiku. Biarlah enggak punya geraham, entar juga bisa pake gigi palsu. Tapi aku enggak tau kapan aku akan pasang gigi palsu. Udah kaya hati aja. Disakitin, biarkanlah pergi, nanti juga akan ada orang yang menyembuhkan dan mengisi kekosongan hati itu, eaa. Anjirr… analogi macam apaan ini.

“Sante aja mas, besuk pagi udah enggak sakit dan kamu bisa kembali ke Jogja lagi.” Kata pak Dokter menghiburku.
“…”

Akupun memilih mencabut satu-satunya gigi gerahamku. Aku disuntik bius pada gusi. Setelah agak lama, pak Dokter pun mengeksekusiku. Yap, seperti prediksiku, meskipun udah dibius, masih aja tetep kerasa. Lha wong gigi geraham paling belakang, masih kuat malah dicabut. Selain itu, posisi gigi gerahamku ini emang agak miring, jadi posisinya kurang strategis untuk dicabut. Gigiku dicabut pake tang, sumpah, rasanya mantep banget. Bahkan, suara gigi yang berpisah dengan saraf pun terdengar sampe telingaku. 

Gak sampe 5 menit, gigiku berhasil dicabut. darah segarpun mengalir dengan indahnya dari gusiku.

“Nih mas… bahkan gusimu udah bernanah coba.” Kata pak dokter sambil mencuci peralatan yang baru aja dipake.
“Dok… besuk saya bisa sehat lagi kan?” kataku sambil berkumur-kumur mengukan air yang udah disiapkan.
“Besuk udah bisa beraktivitas kok. Jangan lupa, nanti jam 10 kapasnya dibuang. Jangan lupa juga jangan kebanyakan meludah. Owh iya, udah punya pacar belum mas?” tambah dokter yang udah setengah tua sambil menyiapkan obat.
“…”
*hening*

Gak lama kemudian aku langsung ngunyah gigi yang baru aja dicabut, sial banget!

Singkat cerita, setelah diberi obat, aku pulang ke rumah. Sesampai di rumah, langsung tepar dengan rasa nyeri di kepala gara-gara tadi. Setelah minum obat, aku tidur dan meminta nyokap membangunkan ku pada jam 10 malam. Alhamdulilah, keesokan harinya udah gak pusing. Meskipun masih ada sisa inflamasi di lubang gusi, tapi secara keseluruhan aku udah enggak migren dan nyeri lagi.

Oke, mungkin cukup ini aja tulisan dariku. Pesan yang bisa diambil, adalah jangan lupa rajin gosok gigi dan rawatlah gigimu sebelum terlambat. Selain itu, kalau mau periksa gigi, jangan asal-asalan. Pilihlah dokter gigi yang bener-bener berpengalaman. Yang terakhir, ikhlaskan dan lepaskan sesuatu yang menyakitimu. Move on, mulailah mencari yang baru. Percayalah, everything happens for a good reason.
Bye… cukup ini dulu nya, aku mau belajar dulu. Minggu depan ada presentasi. Jangan lupa share juga pengalaman kalian di kolom komentar. Salam!
 Akhirnya bisa tersenyum kembali, Bye Migren, Bye Geraham

pict. source: aktualpost.com
Mahasiswa 2.0 8165491083189349380

Post a Comment

Hargailah penulis dengan meninggalkan jejak. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. No SARA. Jangan komentar sesat karena Blog ini juga dibaca anak-anak dan umum. arigatou

emo-but-icon

Home item

dapatkan update

Random Posts

Blog Archive

Statistik

free web hit counter

Followers