Monday, December 29, 2014

Semester Senior= Korban PHP


“Skripsi udah dikerjakan belum le?”
“Udah nyampe bab berapa?”
“Kapan kamu ngasih Mama cucu?”
“…”

Ya serperti itulah pertanyaan yang selalu menghampiri gue, mahasiswa yang baru aja memasuki tahun ke-empat. Enggak nyokap, bokap, bahkan temen bokap juga menanyakan tentang perkembangan skripsi anak kesayangannya.


Gue cuman bisa senyum, sambil bilang, “Baru sampe niat kok.” Pasti keluarga gue selalu mengintrogasi. “ Kok enggak dikerjakan?” Gue cuman bisa jawab,”Belum ada yang menggerakan hati gue kok Maah.” Enggak lama kemudian nyokap ngambil KK keluarga yang ada di lemari, dan kemudian nama gue dicoret, kampret.

Tanpa disadari, setiap mahasiswa pasti bakalan bertemu sama yang namanya Skripsi. Ya seperti itulah syarat biar jadi seorang sarjana.

Banyak faktor sih yang berpengaruh dalam perkembangan skripsi mahasiswa. Diantaranya Dosen pembimbing dan mahasiswa sendiri. Meskipun mahasiswa udah ngumpulin niat, udah berusaha mengerjakan semampu mereka, tapi kalo dosen pembimbing enggak suport ya sama aja. Kalau dosen pembimbing aja sulit ditemuin, gimana  nasib skripsi mahasiswa bimbingan mereka? Ada juga dosen pembimbing yang baik hati, bahkan sampe nyari mahasiswa bimbingnnya gara-gara enggak pernah konsultasi. Iya, harusnya ada kesinergian antara dosen pembimbing dan mahasiswa.

Seperti yang baru gue alamin beberapa waktu lalu. Jadi seperti ini ceritanya. Semua berawal ketika mahasiswa memasuki semester atas memulai skripsi. Tapi, semua berubah saat negara api menyerang. Oke lupakan!

Jadi, hari ini gue berencana menemui dosen pembimbing pertama. Ini merupakan kedua kalinya gue mau menghadap dosen. Beberapa minggu lalu gue udah menghadap beliau, tapi ketika sedang memulai topik pembicaraan, dosen malah ngisi kuliah. Jadi batal deh. Hari ini gue berencana menemui beliau lagi. Temen-temen gue udah dapet judul, bahkan udah nyampe bab 2. Sedangkan gue, judul aja belum deal.

Meskipun gue udah ketemu dosen pembimbing 2, tapi kealo dosen pertama belum ACC judul ya bakal sia-sia aja. Ibarat udah ngerancang kehidupan bareng pacar, tapi kalo bokapnya belum merestui ya bakalan sia-sia. Karena Pembimbing pertama itu berkuasa, sedangkan pembimbing kedua cuman teknisi aja.

Kemarin sore, gue udah SMS beliau. Menanyakkan apakah hari ini bisa bimbingan apa enggak. Tapi, setelah gue tunggu-tinggu, sms enggak dibales, kampret. Padahal gue udah SMS sesopan-sopannya, enggak alay. Yang jelas gue sms dosen enggak pernah pake emotion, oke ini penting!. Gue SMS kayak gini:


Gue tungguin sampe Metalica bikin album dangdut, dan SMS gue belum juga dibales. Gue baca lagi apa gue salah ngirim SMS. Yang jelas gue enggak ngirim SMS kayak gini:


Daripada menunggu balasan SMS dari dosen, guepun pergi ke kampus, menghadap langsung. Pagi-pagi jam 8 gue udah stand by di depan ruang dosen. Kampus masih sepi, bahkan ruang dosen aja masih kosong, kampret.

Enggak lama kemudian mahasiswa tingkat akhir berdatangan di depan ruang dosen dengan urusan yang sama, konsultasi skripsi. Ya seprti ini lah kegiatan mahasiswa tingkat akhir, cuman menunggu-menunggu dan terus menunggu dosen.

Kami juga sama-sama menunggu dosen yang sama. Waktu terus berputar, hari semakin siang, langit semakin mendung, tapi dosen pembimbing belum juga keliatan batang kemaluannya,eh typo, maksud gue batang hidungnya. Gue berfikir positif aja, enggak mikir aneh-aneh.

“Jangan-jangan dosen pembimbing enggak datang.”
“Jangan-jangan si Dosen lupa jalan ke kampus.”
“Jangan-jangan si Dosen lagi ikut nyari keberadaan pesawat Air Asia.”
“…”

Sambil menanti kedatangan dosen, gue main game. Iya, main game Dumb Ways To die 2. Enggak kerasa batre hape juga low, tapi dosen belum juga datang, sial.

Singkat cerita, jam udah menunjukan jam 12 siang. Tiba-tiba dari arah seberang, dosen yang gue tunggu datang. Beliau langsung masuk ke ruangan. Pas gue mau masuk ke dalam, gue baru inget kalo jam 12 sampe jam 1 adalah jam istirahat dosen. Di depan pintu ruang dosen  tertulis, “Bagi mahasiswa yang mau bimbingan, diluar jam 12.00-13.00.”

Pinter banget, datang ketika jam istirahat. Gue cuman bisa sabar. Enggak kerasa udah 4 jam gue duduk di depan ruang dosen.

“Dik… hari ini beliau enggak bisa ngasih bimbingan.” Kakak tingkat menghampiri gue.
“Hah… kok tahu mbak?” gue shock.
“Barusan… bapaknya bales smsku, hari ini dia enggak menerima konsultasi.”
“…”

Kemudian gue membenturkan kepala ke tembok sampe amnesia, kampet banget. Sakit banget Meennn, bahkan lebih sakit dari ditinggalin mantan. Lah apa arti penantian gue selama 5 jam ini kalo cuman tanpa kepastian.

Gue langsung pulang ke kos dan nangis dipangkuan ibu kos, dafuq coeg. Ya seperti inilah romansa mahasiswa tingkat akhir. Sepertinya sebagai mahasiswa tingkat akhir, gue kudu belajar bersabar dan memanjangkan usus.

Ya gue sebagai mahasiwa memaklumi kalo dosen sibuk. Tapi, setidaknya berilah kepastian pada mahasiswa. Kalo bisa ya bilang bisa, kalo enggak ya bilang bisa *maksa*. Ya ibarat SEBASTIAN aja, Sebatas Teman tanpa Kepastian.

Armand maulana aja nyanyi “Kepastian yang Ku tunggu”, lah masa dosen enggak bisa. Semoga aja besuk si dosen bisa melakukan kewajibanya sebagai pembimbing skripsi mahasiswa.


No comments:

Post a Comment

Hargailah penulis dengan meninggalkan jejak. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. No SARA. Jangan komentar sesat karena Blog ini juga dibaca anak-anak dan umum. arigatou