Sunday, April 27, 2014

Surakarta Trip Report (Part1) : Radya Pustaka Museum



Sabtu pagi yang cerah. Suasana kos masih sunyi. Maklum saja, hari ini weekend, semua anak-anak kos pulang ke rumah masing-masing. Hanya ada suara Conan Edogawa yang sedang memecahkan kasus diiringi iklan komersial di pagi hari. Gue masih asik ngeliat si Conan memecahkan kasusnya di balik layar kaca. “Weekend? Laporan belum ngerjain.”, Mau nulis males.” Jalan ma cewek, ceweknya siapa.” Gue cuman bisa berguman dalam hati. Gue pingin traveling…


Terdengar suara langkah kaki sama-samar dari arah belakang. Enggak terlalu cepat dan tidak terlalu keras. Tiba-tiba terlihat sesosok laki-laki muda cungkring duduk di samping gue. Usut punya usut, dia senior gue di kos.  Wajahnya yang kusut menandakan kalau dia sama seperti gue, sama-sama bingung di kos, butuh hiburan dan penyegaran pikiran.

“kang… Museum Radya Pustaka Yuh..” Gue mulai membuka percakapan.
“Sekarang? Beneran?”
“Iya kang… nyari hiburan sekalian jalan-jalan.”
“Oke.. aku juga butuh hiburan, aku tak sarapan dulu.”
“…”

Gue sepakat hari ini mau tarveling di sekitar kota. Udah hampir 3 tahun di sini, gue belum pernah mengunjungi Museum yang katanya tertua di Indonesia.  Pernah terbesit tentang destinasi yang bakal gue tuju. Kalau enggak salah pada waktu pelajaran Sejarah dan IPS. Menurut buku pelajaran dulu, di museum yang akan dituju ini terdapat naskah-naskah kuno.


Semua persiapan udah selesai. Senior juga udah selesai mandi. Sinar matahari semakin panas. Bayangan sudah hampir di atas kepala.  Pantas saja, jarum  arloji sudah berada di angka 11. 

Kamipun turun dari kos menuju garasi sepeda motor. Tanpa menunggu perintah dan  aba-aba, gue dan senior kospun langsung tancap gas ke Lokasi. Lokasi yang enggak terlalu jauh dari kos, terletak di Jalan utama Slamet Riyadi, tepatnya di samping lapangan tempat diadakannya PON untuk pertama kali, Stadion Sriwedari.

Enggak terasa 30 menit udah berlalu. Akhirnya gue sampe juga di depan bangunan Tua peninggalan Belanda. Terlihat Patung besar setengah badan dan Tulisan yang menandakan kalau gue udah sampe di Museum. Patung setengah badan yang pernah di resmikan oleh Presiden pertama Indonesia pasti si Pujangga yang terkenal dan masih misteri, Ranggawarsita.
*Tugu Patung Ranggawarsito

Terlihat juga banyak anak-anak memakai seragam pramuka berada di teras rumah belanda. Pasti mereka anak-anak SD yang sedang diajak studi lapangan. Gue pun segera memarkirkan motor dekat bapak-bapak setengah baya. Bapak-bapak berkacamata dengan headset tunggal  di telinga kiri. 
“Pak… berapa…”
“Parkirnya Berapa…”
Si Bapak hanya memberikan tanda karcis parkir. Terlihat nominla 1500 rupiah dalam lembaran karcis motor ini. Tanpa banyak tanya, gue mengambil selembar ribuan dan uang logam perak, gue kasih ke Bapaknya.
“Silahkan ke loket mas…” kata bapak tua ini sambil menunjuk arah pintu rumah belanda.
“Sebelah mana Pak?”
“…”
“Pak… dimana ya?”
“…”

Si bapak tua ini tetap diam seribu bahasa. Dia meninggalkan kami dengan rasa penasaran. Pasti bapak ini  memang mengalamai gangguan pendengaran.
Kamipun menuju teras rumah besar dan kuno. Tapi… gue enggak melihat ada tulisan loket. Hanya terlihat beberapa laki-laki berkumis duduk dan beberapa kertas karcis.

“Selamat siang mas… dari mana?” sapa mas-mas berbaju batik Biru.
“Dari Solo Pak… tiketnya dimana ya?”
“Ini mas… bawa kamera tidak mas?”
“…” gue diem.
“Enggak pak…”
“lima ribu aja mas perorang.”
“…”

Gue pernah baca artikel, kalau di sini dikenakan biaya tambahan bagi yang membawa kamera. Gue juga bawa kamera di dalam tas kecil.  Enggak masalah enggak motret pakai kamera, toh kalau pake HP kan enggak dilarang.
*Pistol asli jaman Penjajah

Kamipun masuk melewati pintu yang sangat besar dan tinggi. Arsitektur bangunan Belanda terasa sekali. Terlihat pintu-pintu yang sangat besar, tinggi dan lebar. Ada juga tembok yang sangat tebal dan kuat meski tidak ada kerangka dalam bangunan ini.

*Ruang yang diduga ruang tamu
Gue pun disambut dengan koleksi barang-barang yang antik dan langka. Terlihat di ruang tamu terdapat patung setengah badan, beberapa keris dan senjata api masa itu. Tiba-tiba mata gue tertuju pada beberapa foto yang menggantung di tembok. Beberapa foto museum ini dan foto Proklamator Indonesia yang sedang meresmikan museum ini.

*Keris-keris Jaman dulu
Setelah puas di ruang tamu yang berukuran kurang 3 kali5 meter ini, kamipun melanjutkan ke kamar-kamar yang lain. Pada kamar yang pertama terdapat koleksi keris. Terihat seni lekukan keris yang seperti ular beserta hiasan-hiasan rajah di badan keris.
*situs patung Peninggalan Kerajaan Hindu Budha

Setelah puas pada kamar pertama, kamar demi kamar gue telusuri. Gue semakin takjub kalau Indonesia emang negara yang  kaya. Banak sekali hasil karya nenek moyang masih terlihat sampai saat ini. Seperti patung-patung jaman kerajaan Hindu Budha yang masih tersimpan  rapi dan indah di dalam lemari kaca.

Enggak cuman beda pusaka yang ada di museum ini. Ada juga benda-benda pertanian, seperti parang, Trisula, tombak dan peralatan yang terbuat dari logam.

Kamipun sampai di ruang yang lebih besar dari ruang tamu di depan.  Gue berasumsi kalau ini dulunya ruang pertemuan. Hanya terlihat seperangkat gamelan jawa dan koleksi wayang di depan mata.  Wayang yaang enggak cuman berasal dari jawa saja. Ada wayang Golek. Tapi terlihat, eksistensi wayang kulit paling dominan diruang ini.
*The Puppet

Gue pun melanjutkan ke ruang yang terakhir. Terlihat beberapa anak-anak sedang menulis dan menerjemahkan huruf jawa ke Huruf latin. Terlihat tulisan Naskah Kuno.  “Don’t enter, Staff only”.  Sayang sekali, ruang naskah kuno enggak dibuka untuk umum. Hanya untuk orang yang berkepentingan aja.
*Duit asli Lho

Disini terdapat beberapa koleksi mata uang dunia maupun mata uang yang pernah ada Di Indonesia. Dari Jaman penjajahan Belanda sampai sekarang.  Uang dari negara-negara  eropa, amerika, Asia pun terlihat di kotak kaca bewarna merah ini. sayang  seribu sayang, kondisi ruang ini sangat gelap.

*BAru tau ada Mesin Ketik Hiruf Jawa

Sepertinya semua ruangan udah gue jelajahi. Suara azan juga terdengar dari mana-mana. Tapi… destinasi gue masih belum selesai. Si Senior ngajakin ke Kraton Solo. Akhirnya kamipun cepet-cepet meninggalkan tempat yang indah ini.

No comments:

Post a Comment

Hargailah penulis dengan meninggalkan jejak. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. No SARA. Jangan komentar sesat karena Blog ini juga dibaca anak-anak dan umum. arigatou